- Home
- Member
- saori
- saori's entries
- Masalah Dalam Pernikahan International
Masalah Dalam Pernikahan International
- 692
- 4
- 3
Catatan ini ditulis dengan bantuan teman. Bahasa Indonesiaku sendiri yang sebenar sangat lebi jelek daripada di catatan ini.
*・..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・
Dalam beberapa catatan, di Lang-8 aku menuliskan tentang yang seorang teman menikah laki-laki Indonesia. Beruntungnya, suaminya adalah pegawai neguri yang diberikan kesumpatan bersekolah S3 pemerintah Indonesia. Dan suaminya memilih Jepang sepaya memenuhi kerinduan tempat asal temanku.
Cerita-cerita orang Jepang juga bermacam-macam ada. Banyak yang carita baik, banyak juga cerita jelek. Mengkin ada arasan beberapa perempuan Jepang yang diiginkan tinggal di Indonesia, dan menentukan menikah laki-laki Indonesia. Alam Indonesia bagus, banyak kesenian menarik, kekayaan budaya yang bermacam-macam, orang-orang Indonesia ramah dengan linkugan tetangga yang silaturahmi, masakan Indonesia enak, kehidupan damai dan santai yang tidak menbebankan ketat waktu, dan sebagainya hal-hal yang tidak didapatkan di Jepang.
Menbacakan sebuah tulisan seorang yang belajar bahasa Indonesia di Lang-8, aku mengartikan bahawa memang hal-hal itu yang menginginkan.
http://lang-8.com/287483/journals/1026549/Pernikahan
Alasannya juga bukan hanya itu. Budaya Jepang berbeda dari budaya Indonesia. Beberapa perempuan yang pernah bertemu laki-laki Indonesia umumnya suka laki-laki Indonesia lebih. Laki-laki Indonesia sangat setia untuk pasangan, mau menbantukan istri pekerjaan rumah, dan paling penting yang tidak melakukan hal-hal tidak menyenangkan kepada istri, sepurti mabuk-mabukan atau pergi ke tempat cabul yang dilakukan banyak laki-laki Jepang kalau mendapatkan stress berat dari pekerjaan. Tidak menbicarakan betul atau salah, tapi hal budaya. Selain, tidak bisa menpersamakan umumnya pada semua orang Jepang atau orang Indonesia.
Padahal, beberapa dari purempuan Jepang menikah laki-laki Indonesia bertahan tidak lama tingal di Indonesia karuna banyak masarah ada. Memang beberapa tidak pikir benar-benar dan teraru cepat menentukan. Tidak pikir masalah economi, tidak pikir masalah karau akan pulang ke Japang, tidak pikir dengan kurang nyaman keadaan di Indonesia, seperti kerusuhan, banjir, jalan rusak, sulit toransportasi, makanan kurang hygienic. Untuk bicara jujur, memang di Jepang banyak rebi nyaman kehidupan daripada di Indonesia. Ada yang bisa tingal satu tahun, setera itu tidak bertahan dan pulang ke Jepang, ada yang menbawakan suaminya bertinggal ke Jepang, bahkan beberapa meninggalkan begitu saja suaminya. Walaupun juga, ada perempuan Jepang yang berusaha tetap tingal di Indonesia sampai bertahun-tahun dengan tekanan kehidupan di Indonesia. Bagaimanapun, akan banyak kerinduan kampung halaman di Jepang.
Perenpuan yang pikir masalah ekonomi dan keinginan kembali ke Jepang memilih menbawakan suaminya tingal di Jepang. Mereka mengangap sulit atau tidak mengkin kenbali ke Jepang dengan kerja mengempulkan uang karena gaji di Indonesia sangat rendah, sedangkan karau kembari ke Jepang perlu banyak uang untuk biaya kehidupan sehari-hari yang sangat mahal. Demikian yang tidak bertahan tinggal di Indonesia juga melakukan. Tapi, ternyata masalah lain banyak ada. Suami tidak mudah mendapatkang pekurjaan yang sesuai keinginan karena kurang bisa bahasa Jepang. Pekerjaan yang bisa seperti penjaga toko, pelayang resutoran, pekerja kasar, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak banyak mendapatkan uang. Memang awalnya istri bisa bertahan karena mencintai suaminya. Tapi lama-lama akan kurang sabar dan tidak bertahan lagi sampai akhirnya mengeluarkan suami dari rumah. Apa boleh buat, suami harus pulang ke Indonesia karena tidak ada tempat tinggal setera dikeluarkan.
Beberapa kisah bahagia juga ada. Karau suami pintar bahasa Jepang, bisa dapat pekerjaan bagus. Apalagi, karau suami adalah mahasiswa di universitas yang di Jepang. Walaupun orang asing, kesempatan bekerja bagus di Jepang banyak ada. Pekerjaan lain yang memunkingkan seperti pengusaha yang sukses di Indonesia. Tapi tidak semua perempuan Jepang yang mau menikah orang Indonesia punya kesempatan dapatkan suami seperti ini.
Perbedaan keadaan ekonomi Jepang dan Indonesia yang ekstreme menjadikan penyebab utama. Di sisi lain, perbedaan agama dan budaya juga bisa memasalahkan. Meskipun demikian, pernikahan tidak hanya karena ada cinta. Apakah bisa bahagia hanya dengan cinta? Semoga saja ekonomi di Indonesia cepat berubah dan pola pikir orang Indonesia bisa sesuai perkembangan zaman.
*・..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・
Dalam beberapa catatan, di Lang-8 aku menuliskan tentang yang seorang teman menikah laki-laki Indonesia. Beruntungnya, suaminya adalah pegawai neguri yang diberikan kesumpatan bersekolah S3 pemerintah Indonesia. Dan suaminya memilih Jepang sepaya memenuhi kerinduan tempat asal temanku.
Cerita-cerita orang Jepang juga bermacam-macam ada. Banyak yang carita baik, banyak juga cerita jelek. Mengkin ada arasan beberapa perempuan Jepang yang diiginkan tinggal di Indonesia, dan menentukan menikah laki-laki Indonesia. Alam Indonesia bagus, banyak kesenian menarik, kekayaan budaya yang bermacam-macam, orang-orang Indonesia ramah dengan linkugan tetangga yang silaturahmi, masakan Indonesia enak, kehidupan damai dan santai yang tidak menbebankan ketat waktu, dan sebagainya hal-hal yang tidak didapatkan di Jepang.
Menbacakan sebuah tulisan seorang yang belajar bahasa Indonesia di Lang-8, aku mengartikan bahawa memang hal-hal itu yang menginginkan.
http://lang-8.com/287483/journals/1026549/Pernikahan
Alasannya juga bukan hanya itu. Budaya Jepang berbeda dari budaya Indonesia. Beberapa perempuan yang pernah bertemu laki-laki Indonesia umumnya suka laki-laki Indonesia lebih. Laki-laki Indonesia sangat setia untuk pasangan, mau menbantukan istri pekerjaan rumah, dan paling penting yang tidak melakukan hal-hal tidak menyenangkan kepada istri, sepurti mabuk-mabukan atau pergi ke tempat cabul yang dilakukan banyak laki-laki Jepang kalau mendapatkan stress berat dari pekerjaan. Tidak menbicarakan betul atau salah, tapi hal budaya. Selain, tidak bisa menpersamakan umumnya pada semua orang Jepang atau orang Indonesia.
Padahal, beberapa dari purempuan Jepang menikah laki-laki Indonesia bertahan tidak lama tingal di Indonesia karuna banyak masarah ada. Memang beberapa tidak pikir benar-benar dan teraru cepat menentukan. Tidak pikir masalah economi, tidak pikir masalah karau akan pulang ke Japang, tidak pikir dengan kurang nyaman keadaan di Indonesia, seperti kerusuhan, banjir, jalan rusak, sulit toransportasi, makanan kurang hygienic. Untuk bicara jujur, memang di Jepang banyak rebi nyaman kehidupan daripada di Indonesia. Ada yang bisa tingal satu tahun, setera itu tidak bertahan dan pulang ke Jepang, ada yang menbawakan suaminya bertinggal ke Jepang, bahkan beberapa meninggalkan begitu saja suaminya. Walaupun juga, ada perempuan Jepang yang berusaha tetap tingal di Indonesia sampai bertahun-tahun dengan tekanan kehidupan di Indonesia. Bagaimanapun, akan banyak kerinduan kampung halaman di Jepang.
Perenpuan yang pikir masalah ekonomi dan keinginan kembali ke Jepang memilih menbawakan suaminya tingal di Jepang. Mereka mengangap sulit atau tidak mengkin kenbali ke Jepang dengan kerja mengempulkan uang karena gaji di Indonesia sangat rendah, sedangkan karau kembari ke Jepang perlu banyak uang untuk biaya kehidupan sehari-hari yang sangat mahal. Demikian yang tidak bertahan tinggal di Indonesia juga melakukan. Tapi, ternyata masalah lain banyak ada. Suami tidak mudah mendapatkang pekurjaan yang sesuai keinginan karena kurang bisa bahasa Jepang. Pekerjaan yang bisa seperti penjaga toko, pelayang resutoran, pekerja kasar, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak banyak mendapatkan uang. Memang awalnya istri bisa bertahan karena mencintai suaminya. Tapi lama-lama akan kurang sabar dan tidak bertahan lagi sampai akhirnya mengeluarkan suami dari rumah. Apa boleh buat, suami harus pulang ke Indonesia karena tidak ada tempat tinggal setera dikeluarkan.
Beberapa kisah bahagia juga ada. Karau suami pintar bahasa Jepang, bisa dapat pekerjaan bagus. Apalagi, karau suami adalah mahasiswa di universitas yang di Jepang. Walaupun orang asing, kesempatan bekerja bagus di Jepang banyak ada. Pekerjaan lain yang memunkingkan seperti pengusaha yang sukses di Indonesia. Tapi tidak semua perempuan Jepang yang mau menikah orang Indonesia punya kesempatan dapatkan suami seperti ini.
Perbedaan keadaan ekonomi Jepang dan Indonesia yang ekstreme menjadikan penyebab utama. Di sisi lain, perbedaan agama dan budaya juga bisa memasalahkan. Meskipun demikian, pernikahan tidak hanya karena ada cinta. Apakah bisa bahagia hanya dengan cinta? Semoga saja ekonomi di Indonesia cepat berubah dan pola pikir orang Indonesia bisa sesuai perkembangan zaman.

Bahasa Indonesiaku sendiri tidak lebih baik daripada catatan/tulisan ini.
Dalam beberapa catatan, di Lang-8 aku menulis tentang seorang teman yang menikah dengan pria Indonesia.
Untungnya, suami dia adalah pegawai negeri yang diberikan kesempatan sekolah S3 oleh pemerintah Indonesia.
Dan suaminya memilih tinggal Jepang untuk memenuhi kerinduan tempat asal temanku.
Cerita-cerita orang Jepang juga ada bermacam-macam .
Ada cerita yang baik, Ada juga cerita yang jelek.
Mungkin ada beberapa alasan kenapa perempuan Jepang tinggal di Indonesia, dan memutuskan untuk menikah dengan laki-laki Indonesia.
Alam Indonesia bagus, banyak kesenian menarik, kekayaan budaya yang bermacam-macam, orang-orang yang ramah dengan lingkungan, tetangga yang saling silaturahmi, masakan yang enak, kehidupan damai dan santai dan tidak dibebankan dengan jadwal yang padat, dan masih banyak lagi hal-hal yang tidak didapatkan di Jepang.
Menbacakan sebuah tulisan seorang yang belajar bahasa Indonesia di Lang-8, aku mengerti bahwa memang hal-hal itu yang diinginkan.
Beberapa perempuan jepang yang pernah bertemu laki-laki Indonesia umumnya lebih suka laki-laki Indonesia .
Laki-laki Indonesia sangat setia untuk pasangan, mau menbantu pekerjaan istri dirumah, dan yang paling penting idak melakukan hal-hal tidak menyenangkan kepada istri, seperti mabuk-mabukan atau pergi ke tempat cabul yang dilakukan banyak laki-laki Jepang kalau mendapatkan stress berat dari pekerjaan.
Saya tidak bicara ini benar atau salah, tapi ini adalah budaya .
Selain itu saya juga tidak bisa menyamakan semua orang Jepang atau orang Indonesia.
Padahal, sebenarnya beberapa dari perempuan Jepang yang menikah dengan laki-laki Indonesia tidak bertahan lama tingal di Indonesia karena ada banyak masalah.
Memang beberapa orang tidak berpikir dengan serius dan terlalu cepat menentukan.
Tidak berpikir masalah ekonomi, tidak pikir masalah kalau akan pulang ke Japang, tidak berpikir dengan keadaan yang kurang nyaman di Indonesia, seperti kerusuhan, banjir, jalan rusak, sulit transportasi, dan makanan yang kurang hygienic.
Kalau bicara jujur, memang kehidupan di Jepang lebih nyaman daripada di Indonesia.
Ada yang bisa tingal satu tahun, setelah itu tidak bertahan dan pulang ke Jepang, ada yang menbawa suaminya tinggal ke Jepang, bahkan beberapa meninggalkan suaminya begitu saja .
Walaupun ada juga perempuan Jepang yang berusaha tetap tingal di Indonesia sampai bertahun-tahun dengan tekanan kehidupan di Indonesia.
Bagaimanapun, pasti akan ada banyak kerinduan pulang ke kampung halaman di Jepang.
Perempuan yang berpikir masalah ekonomi dan punya keinginan untuk kembali ke Jepang memilih menbawa suaminya tingal di Jepang.
Mereka mengangap sulit atau tidak mengkin kenbali ke Jepang dengan cara mengumpulkan uang karena gaji di Indonesia sangat rendah, sedangkan kalau kembali ke Jepang memerlukan banyak uang untuk biaya kehidupan sehari-hari yang sangat mahal.
Demikianlah orang yang tidak bertahan tinggal di Indonesia memikirkannya.
Tapi, ternyata ada banyak masalah lain .
Suami tidak mudah mendapatkan pekerjaan yang sesuai keinginan karena kurang bisa berbahasa Jepang.
Pekerjaan yang bisa dilakukan seperti penjaga toko, pelayan resutoran, pekerja kasar, atau pekerjaan-pekerjaan lain yang tidak banyak mendapatkan uang.
Apa boleh buat, suami harus pulang ke Indonesia karena tidak ada tempat tinggal setelah diusir dari rumah.
Kalau suami pintar bahasa Jepang, bisa dapat pekerjaan bagus.
Apalagi, kalau suami adalah mahasiswa universitas yang ada di Jepang.
Pekerjaan lain yang memungkinkan seperti pengusaha yang sukses di Indonesia.
Tapi tidak semua perempuan Jepang yang mau menikah dengan orang Indonesia punya kesempatan mendapatkan suami seperti ini.
Perbedaan keadaan ekonomi Jepang dan Indonesia yang ekstreme menjadi penyebab utama.
Di sisi lain, perbedaan agama dan budaya juga bisa dipermasalahkan.
Setelah membaca sebuah tulisan seseorang yang belajar bahasa Indonesia di Lang-8, aku mengerti bahwa memang hal itu yang mereka inginkan.
Budaya Jepang berbeda dengan budaya Indonesia.
Beberapa perempuan yang pernah bertemu dengan laki-laki Indonesia, umumnya lebih menyukai laki-laki Indonesia.
Laki-laki Indonesia sangat setia dengan pasangannya, mau membantu pekerjaan istri di rumah, dan paling penting yang tidak melakukan hal-hal tidak menyenangkan kepada istri, seperti mabuk-mabukan atau pergi ke tempat cabul, seperti yang dilakukan banyak laki-laki Jepang kalau mendapatkan stress berat dari pekerjaan.
Perbedaan keadaan ekonomi Jepang dan Indonesia yang cukup jauh menjadikan penyebab utama.(*ekstreme, belum saya temukan dalam kamus bahasa indonesia saya ^_^.)
Seperti peribahasa di Indonesia, "Rumput tetangga terlihat lebih hijau dari rumput di halaman sendiri".
^_^
setuju dengan arema001... seperti ada di iklan LA light yang baru. niatnya mau makan rumput tetangga yang lebih hijau, ternyata palsu plus ada singanya lagi! hiiiii...
Dan suaminya memilih di Jepang supaya (or) untuk memenuhi kerinduan tempat asal temanku.
Laki-laki Indonesia sangat setia dengan pasangan, mau membantu istri pekerjaan di rumah, dan paling yang penting yang tidak melakukan hal-hal tidak menyenangkan kepada istri, seperti mabuk-mabukan atau pergi ke tempat cabul, seperti yang dilakukan banyak laki-laki Jepang kalau mendapatkan stress berat dari karena pekerjaan.
Mereka menganggap sulit atau tidak mungkin kembali ke Jepang dengan cara mengumpulkan uang karena gaji di Indonesia sangat rendah, sedangkan kalau kembali ke Jepang perlu banyak uang untuk biaya kehidupan sehari-hari yang sangat mahal.
Walaupun orang asing, kesempatan bekerja bagus di Jepang ada banyak ada.
Perbedaan keadaan ekonomi Jepang dan dengan Indonesia yang ekstreme (or) yang begitu mencolok menjadikan penyebab utama.
(あれ?後2ヶ月か?)
結構問題があるけど、今までは幸せです!:P
また日本に住むつもりなので、問題なし。
宗教も別に私たちには問題なし~
一番大変なことは多分、日本で昔の仕事したところから今回の住むところは、
すごく遠いので、また新しい仕事探さないといけない~
それで、ビサが変わるまでに日本で2-3ヶ月くらい仕事してはいけないので、
ちょっと恥ずかしいけど、彼女は「いいよ、それは仕様がない~、頑張ってご飯を作りなさい~」って言っただけ :P
多分、どこの人と結婚しても確かに問題がたくさんあるんだと思う、
私には日本人と結婚しても、インドネシア人と結婚しても、基本的に人間はどこでも同じなので、あまり変わらないだと思う…
でも、人の考え方がたまには違う(習慣、宗教の考え方)なので、そこが問題になるかも。まぁ、それは人によって違うな~って思うけど~
愛ってお金で買えるのかな?
命ってお金で買えるのかな?
買えたら、僕は買いたいのよ(^0^)
人生は一度きりなので、後悔しないように心から自分の幸せを考えなさい
お金持ち人と結婚すると幸せだと限らないのよ
運命の人ならきっと幸せです
どんな国籍でもね