Saat-saat terakhir di Indonesia

  •  
  • 373
  • 2
  • 3
  • Indonesian 
Sep 11, 2011 03:20
Waktu terakhir di Indonesia adalah bulan Mei tahun ini. Sengaja tidak bilang-bilang kepada mantan pacar karena mau tenang liburan sendiri. hehe... Walaupun akhirnya bilang juga. Tapi sudah ketemu teman-teman yang orang Indonesia dan orang Jepang tingar di Indonesia.

Karena aku mengingatkan peristiwa banyak dulu, sekarang aku tidak ceritakan yang bulan Mei tahun ini, tapi yang saat-saat terakhir di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Aku kenbali ke Jepang bulan September tahun 2007 juga tidak menberitahukan pacar(sekarang sudah mantan pacar). Entah mengapa mengingatkan dia. Dengan mantan pacar, aku masih menjadi teman sampai sekarang, tidak seperti pada yang pasangan kebanyakan orang Jepang yang putus kontak kalau sudah berpisah. Mantan pacar ini adalah orang Indonesia. Setelah ditinggalkan masih menganggapkan pacar, kemudian akhirnya aku menbuatkan dia percaya dan mengirakan aku punya pacar baru melalui teman orang Indonesia, walaupun juga aku menyesalkan. Padahal sejak berpisah tidak pernah punya pacar meskipun juga ingin. (T___T)

Sebenarnya, catatan ini sedah dibuatkan mulai sejak lama tapi baru diselesaikan. Di sini, aku menanbahkan pengalaman pribadi dan pendapat tentang budaya. Mudah-mudahan mantan pacarku suatu saat juga bisa menbacanya.

*・..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・
Tulisan di bawah ini ditulis dengan bantuan teman. Bahasa Indonesiaku sebenarnya sangat lebi jelek. /(-_-)\
*・..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・*..*・.。.゚・

Kilas balik tahun 2006. Saat itu aku sudah cukup menahu beberapa kebiasaan dan sifat orang Indonesia bahwa seperti pada umumnya yang seperti orang Timur banyak menjaga sikap dan menyembunikan kesal ditutupi dengan ramah tamah. Ada beberapa pengalaman tidak terupakan. Aku mengambil kelas batik, di sana beberapa ada yang dari fakultas lain tidak pernah aku melihat sebelumnya. Aku punya keingintahuan dari salah seorangnya karena tidak seperti mahasiswa baru. Memperhatikan cara penbawaan dirinya, dia serius dan begitu memperhatikan dosen, tapi tidak begitu terlibat dengan aktif dalam kelas. Tapi ingin mengenalnya. Biasanya aku pakai nama Indonesia "Melati" kepada orang Indonesia kalau berkenalan, bahkan beberapa teman yang menahu nama asliku tetap panggil Melati, tapi kali ini aku mengulurkan tangan untuk salaman perkenalan kepada dia. Entah mengapa, aku mengatakan "Nama saya Saori?". Entah aku ada angapan yang nanti akan juga percuma kalau dipanggil oleh dosen dari daftar nama mahasiswa di kelas.

Lama-lama bicara dengan dia, aku bisa akrab dan mengenalkan tentang dia lebih banyak. Kami bertukar nomor handphone, saling bercerita tentang pribadi, keluarga, hobi, kesukaan, dll. Ternyata, mahasiswa tingkat 3 dari fakultas teknik. Dia sangat baik dan perhatian kepada teman-temannya, dan aku merasakan beruntung menjadi orang yang dekat dan merasakan sepurti aku yang paling mendapatkan perhatian. Apapun juga tetap tulus. Walaupun dua tahun rebi muda daripada aku, dia bijaksana dan bisa menbuatkan aku menenang menjadi tempat curhat. Memang hierarki di negara-negara Timur termasuk Jepang dan Indonesia cenderung membuatkan perempuan yang rebi tua umur merasakan superior kepada laki-laki yang muda. Tapi menurutku itu akan bijaksana kalau perempuan tidak teralu menjaga sikap dengan angkuh (arrogant?) dan mengukur ke bawah laki-laki yang lebi muda. Perempuan memang ingin menghormat kepada laki-laki yang dicintainya adalah normal terutama di negara-negara Timur. Banyak yang mengira bahwa itu bisa dicapai kalau laki-lakinya lebih tua atau anggapan laki-laki yang lebih tua adalah sikapnya dewasa. Aku tidak mengatakan ini sama untuk semua orang, tapi hanya yang umumnya. Karena aku tidak begitu peduli pada hal umur, aku meneruskan berniat mengenalnya lebih. Dia adalah orang yang baik hati, sabar, ramah, dan suka membantu. Dia juga menceritakan banyak hal besar yang dicita-cita dari rencana-rencana hidupnya dan sangat consistent untuk mencapai cita-cita menjadi peneliti. Dia memang orang yang sangat pintar dan aku melihat seriusnya dia belajar dan bagaimana tekunnya. Kemampuan seninya juga baik, walaupun mengaku tidak begitu suka menbuat batik.

Suatu saat, aku janjian untuk bertemu. Sebenarnya aku ingin mengajak kencan. Waktu sampai, aku terlambat 15 menit dan dia terlihat wajahnya sedikit kesal dan mengatakan "Bukannya kamu tidak mau telat kalau janjian?". Kata-kata itu membuatkan aku marah dan kasar berkata dengan suara keras. Aku merasakan tidak dimengertikan oleh dia dengan baik. Tapi, bagaimanapun memang aku yang salah, kemudian aku minta maaf. Bagaimanapun ketika berdua, dia tidak mau tersenyum kepada aku, aku sangat sedih. Aku mencoba mencarikan caranya membuatkan tersenyem, tapi tidak berhasil. Akhirnya dia menanyakan "Sekarang, apa yang kamu inginkan? hanya sekudar ketemu?". Aku semakin sedih dan mataku sudah berair, aku hampir menangis karena aku sadar kata-kataku menbuatkan dia marah. Aku menjawab "Aku hanya mau dengan kamu di sini" dan aku menyenderkan kepalaku ke bahunya, kemudian aku menarik tangannya supaya memegang tanganku. Setelah itu, dia tersenyum dan mengatakan "Saori, aku senang bisa menemani kamu di sini" dan aku juga senang sekali. Kali ini, benar-benar aku mengeluarkan air mata yang bukan karena sedih tapi senang sekali. Tidak begitu paham, apakah hari itu sudah jadian, ataukah hari lain saat pertama kali bilang "aku suka" atau "aku sayang", berdua kami tidak begitu peduli kapan harinya.

Ada banyak hal dan budaya yang aku bisa berajar dari dia. Aku senang menjadi tempat curhatnya dan dia tempat curhatku. Apapun yang dilakukan untukku adalah serius dan tulus. Dia orang yang sangat baik, tapi ada beberapa hal yang waktu itu tidak bisa menceritakan. Aku tidak mau dia marah kepada aku karuna memang perbedaan budaya dan agama. Aku tidak mau menceritakan kalau aku pernah pacaran beberapa laki-laki Jepang dan tinggal bersama dengan setiap dari laki-laki itu dalam satu apartement sebelumnya, bahkan yang seorang tinggal di Indonesia dan menjadi manager di perusahaan Jepang menempat Indonesia. Mantan pacar yang orang Indonesia ini memang berbeda sekali dari yang orang Jepang. Mungkin dia adalah pacar yang pernah paling aku mencintai dari pacar-pacar semuanya.

Minggu-minggu hampir menjelang waktu aku akan pulang, kami makan berdua di fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, aku membuatkan bekal makan siang yang isinya onigiri yang di dalamnya ikan setengah matang (kalau mentah aku mengira orang Indonesia tidak suka). Waktu itu, dia tidak mngerti kalau ini adalah pertemuan terakhir, dan sampai saat ini tidak pernah bertemu lagi. Saat aku harus pulang ke Jepang setelah 5 tahun tinggal di Indonesia, aku tidak sempat bertemu dia lagi. Hanya menuliskan surat dalam bahasa Indonesia dan menyempaikan dari temanku. Aku sedih sekali walaupun dalam anggapanku (pendapat?) apabila diteruskan sampai menikah akan menbuatkan banyak masalah. Anggapan itu yang sampai sekarang tetap memikirkan dan membuatkan aku pertimbangan banyak ada kepada menikah dengan orang Indonesia.

http://lang-8.com/99290/journals/1032066/Masalah-Dalam-Pernikahan-International

Suatu hari setelah berpisah beberapa tahun, aku terhubung lagi dengannya. Tapi tidak lama kemudian, dia menanyakan tentang hal yang apakah aku pernah pacaran dengan orang Jepang sebelum pacaran dengan dia, aku tidak bisa mengatakan jujur dan tidak mau berbohong. Akhirnya mengatakan jujur, walaupun aku menahu dia akan menjadi marah.

Memang selain masalah budaya dan agama yang berbeda, kondisi ekonomi Jepang dan Indonesia berbeda jauh memintakan untuk berpikir lebih rasional. Bagaimanapun harus pikir masalah-masalah yang akan ada seterah menikah. Tidak bisa kalau hanya dengan cinta.

Sekarang, aku mau mengatakan jujur lagi.

Kepada "dia",
Di manapun kamu sekarang. Aku menelesaikan turisan di catatan ini sambil menangis. Kalau kamu bisa menbacakannya, tolong jangan cuek.