Mau Marah Tapi Tidak Bisa

  •  
  • 362
  • 7
  • 4
  • Indonesian 
Oct 31st 2010 00:33
Kalau putus berhubungan pacar pasti ada penyesalan. Penyesalan karena waktu dan perhatian yang diberikan kepada pacar. Setiap penyesalan ada kesedihan. Tapi itu berbeda dengan mantan pacarku yang orang Indonesia. Pacaran dengannya lucu. Lucu sekali, seperti pacaran anak-anak SMP yang malu-malu. Tidak berciuman, tidak berpelukan, hampir tidak kontak fisik. Kalau aku tidak menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan bersebelahan, dia tidak akan menggenggam tangganku selamanya. Aku sekali menggodakan (merayu ??) untuk menciumku, tapi tidak berhasil. Mungkin dia memeluk (menganut ??) prinsip hidupnya terlalu ketat. Berpendapat itu tidak boleh lakukan begitupula kepada pacar sendiri. Bahwa perbedaan budaya ini adalah tidak masalah bagiku, cukup asalkan ada cinta.

Mengingatkan bahwa ini adalah lucu, tapi akhir-akhir ini aku mau marah. Kami masih saling komunikasi dari email dan chat. Kadang-kadang, dia menasihatiku berlebihan sekali. Aku tahu dia orang yang pintar sekali dan bijaksana sekali, tapi kadang-kadang sulit mengikut jalan pikirannya terutama prinsip hidup. Dia orang Indonesia dan aku orang Jepang. Kami berbeda budaya pasti juga jalan pikiran. Kalau mau berdiskusi boleh, tapi harus menpertinbangkan agama dan budaya orang yang dibawa berdiskusi. Aku mau sangat marah waktu dia memintakan aku berpikir cara hidup selama ini. Dia bilang tentang generasi muda Jepang sekarang sudah kehilangan jati diri sebagai bagian Asia, kebanyakan mengambil budaya barat, bahkan lebih parah dari yang orang barat. Dia menulis juga contoh-contoh yang dianggapkan jelek atau jahat bagi orang Indonesia. Kalau aku menilai cara-cara hidup itu dari titik pandangku bukanlah jelek atau jahat tapi hal yang biasa dan boleh. Hanya perbedaan budaya yang menbuatkan itu dianggapkan berbeda setiap budaya. Beberapa kali menanyakan "coba pikirkan apa kebenaran universal itu? apakah itu ada?". Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kata itu yang orang lain menuliskan.

Tapi sekarang aku tidak bisa marah lagi. Dia menuliskan email permintaan maaf dituliskan bahasa Jepang yang terakhirnya bahasa Ingris "although are different, we can still love each other. I'm really sorry for making you so hurt". Walaupun banyak kesalahan tulisan dan hampir aku tidak mengertikan kata-kata bahasa Jepangnya, aku senang sekali dia berusaha sangat kuat meminta maaf. Bagaimanapun juga, dia masih teman yang aku sangat menyukainya walaupun sudah berpisah.