Mau Marah Tapi Tidak Bisa
- 362
- 7
- 4
Kalau putus berhubungan pacar pasti ada penyesalan. Penyesalan karena waktu dan perhatian yang diberikan kepada pacar. Setiap penyesalan ada kesedihan. Tapi itu berbeda dengan mantan pacarku yang orang Indonesia. Pacaran dengannya lucu. Lucu sekali, seperti pacaran anak-anak SMP yang malu-malu. Tidak berciuman, tidak berpelukan, hampir tidak kontak fisik. Kalau aku tidak menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan bersebelahan, dia tidak akan menggenggam tangganku selamanya. Aku sekali menggodakan (merayu ??) untuk menciumku, tapi tidak berhasil. Mungkin dia memeluk (menganut ??) prinsip hidupnya terlalu ketat. Berpendapat itu tidak boleh lakukan begitupula kepada pacar sendiri. Bahwa perbedaan budaya ini adalah tidak masalah bagiku, cukup asalkan ada cinta.
Mengingatkan bahwa ini adalah lucu, tapi akhir-akhir ini aku mau marah. Kami masih saling komunikasi dari email dan chat. Kadang-kadang, dia menasihatiku berlebihan sekali. Aku tahu dia orang yang pintar sekali dan bijaksana sekali, tapi kadang-kadang sulit mengikut jalan pikirannya terutama prinsip hidup. Dia orang Indonesia dan aku orang Jepang. Kami berbeda budaya pasti juga jalan pikiran. Kalau mau berdiskusi boleh, tapi harus menpertinbangkan agama dan budaya orang yang dibawa berdiskusi. Aku mau sangat marah waktu dia memintakan aku berpikir cara hidup selama ini. Dia bilang tentang generasi muda Jepang sekarang sudah kehilangan jati diri sebagai bagian Asia, kebanyakan mengambil budaya barat, bahkan lebih parah dari yang orang barat. Dia menulis juga contoh-contoh yang dianggapkan jelek atau jahat bagi orang Indonesia. Kalau aku menilai cara-cara hidup itu dari titik pandangku bukanlah jelek atau jahat tapi hal yang biasa dan boleh. Hanya perbedaan budaya yang menbuatkan itu dianggapkan berbeda setiap budaya. Beberapa kali menanyakan "coba pikirkan apa kebenaran universal itu? apakah itu ada?". Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kata itu yang orang lain menuliskan.
Tapi sekarang aku tidak bisa marah lagi. Dia menuliskan email permintaan maaf dituliskan bahasa Jepang yang terakhirnya bahasa Ingris "although are different, we can still love each other. I'm really sorry for making you so hurt". Walaupun banyak kesalahan tulisan dan hampir aku tidak mengertikan kata-kata bahasa Jepangnya, aku senang sekali dia berusaha sangat kuat meminta maaf. Bagaimanapun juga, dia masih teman yang aku sangat menyukainya walaupun sudah berpisah.
Mengingatkan bahwa ini adalah lucu, tapi akhir-akhir ini aku mau marah. Kami masih saling komunikasi dari email dan chat. Kadang-kadang, dia menasihatiku berlebihan sekali. Aku tahu dia orang yang pintar sekali dan bijaksana sekali, tapi kadang-kadang sulit mengikut jalan pikirannya terutama prinsip hidup. Dia orang Indonesia dan aku orang Jepang. Kami berbeda budaya pasti juga jalan pikiran. Kalau mau berdiskusi boleh, tapi harus menpertinbangkan agama dan budaya orang yang dibawa berdiskusi. Aku mau sangat marah waktu dia memintakan aku berpikir cara hidup selama ini. Dia bilang tentang generasi muda Jepang sekarang sudah kehilangan jati diri sebagai bagian Asia, kebanyakan mengambil budaya barat, bahkan lebih parah dari yang orang barat. Dia menulis juga contoh-contoh yang dianggapkan jelek atau jahat bagi orang Indonesia. Kalau aku menilai cara-cara hidup itu dari titik pandangku bukanlah jelek atau jahat tapi hal yang biasa dan boleh. Hanya perbedaan budaya yang menbuatkan itu dianggapkan berbeda setiap budaya. Beberapa kali menanyakan "coba pikirkan apa kebenaran universal itu? apakah itu ada?". Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kata itu yang orang lain menuliskan.
Tapi sekarang aku tidak bisa marah lagi. Dia menuliskan email permintaan maaf dituliskan bahasa Jepang yang terakhirnya bahasa Ingris "although are different, we can still love each other. I'm really sorry for making you so hurt". Walaupun banyak kesalahan tulisan dan hampir aku tidak mengertikan kata-kata bahasa Jepangnya, aku senang sekali dia berusaha sangat kuat meminta maaf. Bagaimanapun juga, dia masih teman yang aku sangat menyukainya walaupun sudah berpisah.

Kalau putus berhubungan dengan pacar pasti ada penyesalannya.
Tapi itu berbeda dengan mantan pacarku yang merupakan orang Indonesia.
Kalau aku tidak menggenggam tangannya ketika menyeberang jalan bersebelahan, dia tidak akan menggenggam tanganku selamanya.
Aku pernah sekali menggodanya/merayunya untuk menciumku, tapi tidak berhasil.
Mungkin dia memiliki prinsip hidup yang sangat ketat.
Bahwa perbedaan budaya ini adalah tidak masalah bagiku, cukup asalkan tetap ada cinta.
Mengingat hal ini mungkin lucu, tapi akhir-akhir ini aku mau marah.
Kami masih saling berkomunikasi melalui email dan chatting.
Kadang-kadang, dia menasihatiku terlalu berlebihan.
Aku tahu dia orang yang pintar sekali dan bijaksana sekali, tapi kadang-kadang sulit mengikuti jalan pikirannya terutama pada prinsip hidupnya.
Kami berbeda budaya pdan juga berbeda jalan pikiran.
Kalau mau berdiskusi boleh, tapi harus menpertimbangkan agama dan budaya orang yang diajak berdiskusi.
Aku mau sangat marah waktu dia memintaku aku berpikir cara hidup selama ini.
Dia bilang tentang generasi muda Jepang sekarang sudah kehilangan jati diri sebagai bagian Asia, kebanyakan mengambil budaya barat, bahkan lebih parah dari yang orang barat.
Dia juga menulis contoh-contoh yang dianggapkan jelek atau buruk bagi orang Indonesia.
Kalau aku menilai cara-cara hidup itu dari titik pandangku, itu tidak jelek atau buruk tapi hal yang biasa dan lazim.
Hanya perbedaan budaya yang membuat itu berbeda pada setiap budaya. (?)
Berkali-kali aku menanyakan "coba pikirkan apa kebenaran universal itu?
Dia menuliskan email permintaan maaf yang dituliskan dengan bahasa Jepang yang terakhirnya bahasa Inggris "although are different, we can still love each other.
Walaupun banyak kesalahan tulisan dan hampir aku tidak mengertikan kata-kata bahasa Jepangnya, aku senang sekali dia berusaha sangat kuat untuk meminta maaf.
Bagaimanapun juga, dia tetap teman yang kusukai walaupun sudah berpisah.
Selain itu, dalam prinsip hidup yang dipegangnya mungkin sudah diterapkan dari masa kecil oleh orangtuanya sehingga dia akan sangat sulit dalam menerima perbedaan jalan prinsip hidup seseorang.
Bagaimanapun juga tetap menganggapnya sebagai teman sudah sangat baik lho.. ^_^
Kalau putus pacaran pasti ada penyesalan.
Penyesalan karena waktu dan perhatian yang pernah diberikan kepada pacar.
Berpendapat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan bahkan kepada pacar sendiri.
Mengingatkan bahwa hal ini adalah lucu, tapi akhir-akhir ini aku hampir/ingin marah.
Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kata itu, yang ditulis oleh orang lain.
Dia menuliskan email permintaan maaf dituliskan dalam bahasa Jepang yang terakhir disertai bahasa Ingris "although are different, we can still love each other.
Walaupun banyak kesalahan tulisan dan hampir aku tidak mengertikan kata-kata bahasa Jepangnya, aku senang sekali dia berusaha bersungguh-sungguh untuk meminta maaf.
Hehehe... aku sendiri dibesarkan dalam keluarga yang agak ketat. Mungkin keluargaku mirip dia. Aku sendiri waktu pacaran tidak pernah mencium pacarku, kami hanya saling menggenggam tangan saja. Pernah sekali karena pacar pulang kemalaman dari kegiatan kampus, kami akhirnya menginap di Warnet saat itu. Tapi kami tidak melakukan hal-hal lain selain bermain internet. Kami juga beda budaya (adat) saya orang jawa, dia bukan orang jawa. ^_^
Selamat yaa Saori-san tidak jadi marah ^_^.
kamu bilang tidak akan menceritakan hal yang private lagi di internet,bukan?...^^
mungkin mantan kamu kurang ekspresif dan pemalu
karakter orang beda-beda kali ya..
ngomong2 kok menulis hal private lagi? hehe,
saya terus terang ga berani(setidaknya saat ini)
nulis kisah cinta sendiri. malu... hehe
yang jelas saya juga kira2 3-4 tahun pacaran ma orang Jepang,
belum pernah bentrok masalah keyakinan, prinsip hidup, dll.
Tentang hubungan cinta, saya jadi inget film Wall Street.
Winnie Gekko berkata seperti ini ketika pacarnya mengkhianatinya (kind of):
"We're supposed to make each other feel safe, otherwise what's the point?"
ada orang juga yang membahas dialog ini, dia bilang gini:
"Feeling safe with someone does not oust the possibility of physical separation, because that would be impossible. Safety lives in the possible world, where anything can happen despite how much we pull the other way. Safety, then, is knowing that above all chaos and uncertainty, you know that the other person will unfailingly encourage you to be truthful in who you are, and appreciate all that they see".
anyway, good luck.
Kalau putus berhubungan dengan pacar pasti ada penyesalan.
Di setiap penyesalan pasti ada kesedihan.
Berpendapat bahwa hal itu tidak boleh dilakukan walaupun kepada pacar sendiri.
Bahwa Perbedaan budaya ini bukan masalah bagiku, asalkan ada cinta, itu sudah cukup.
Aku tahu dia orang yang pintar sekali dan bijaksana sekali, tapi kadang-kadang sulit mengikut jalan pikirannya terutama prinsip hidupnya.
Kami berbeda budaya dan pasti punya jalan pikiran yang berbeda pula.
Boleh-boleh saja kalau mau berdiskusi, tapi harus mempertimbangkan agama dan budaya orang yang diajak berdiskusi.
Aku sangat marah waktu dia memintaku berpikir cara hidupku selama ini.
Kalau aku menilai cara-cara hidup itu dari sudut pandangku, itu bukanlah hal yang jelek atau jahat, tapi hal yang biasa dan diperbolehkan.
Hanya perbedaan budaya saja yang membuatkan itu dianggapkan berbeda pada setiap budaya.
Beberapa kali aku menanyakan, "Coba pikirkan apa kebenaran universal itu?
Apakah itu ada?".
Dia menuliskan email permintaan maaf yang dituliskan dengan bahasa Jepang yang kalimat terakhirnya berbahasa Inggris "Although we are different, we can still love each other.
Walaupun banyak kesalahan tulisan dan aku hampir tidak mengertikan kata-kata bahasa Jepangnya, aku senang sekali dia berusaha sangat kuat untuk meminta maaf.
Bagaimanapun juga, dia masih menjadi teman yang sangat kusukai walaupun sudah berpisah.
Kata saoriさん enggak mau menulis hal pribadi lagi tapi kok nulis lagi..??
aku jadi ketawa-ketawa sendiri baca komen dari orang-orang... terutama komennya om deni. asli bikin ngakak!!
Jika putus hubungan dengan pacar, pasti ada rasa penyesalan.
Penyesalan atas waktu dan perhatian yang telah diberikan kepada pacar.
Namun hal tersebut berbeda dengan mantan pacarku yang merupakan orang Indonesia.
Pacaran dengannya terasa lucu.
Lucu sekali, seperti pacaran anak-anak SMP yang masih malu-malu.
Tidak berciuman, tidak berpelukan, hampir tidak ada kontak fisik.
Bila aku tidak menggenggam tangannya ketika sedang bersebelahan menyeberang jalan, dia tidak akan pernah menggenggam tangganku selamanya.
Mungkin dia terlalu teguh memegang prinsip hidupnya.
Dia berpendapat bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan meskipun kepada pacarnya sendiri.
Perbedaan budaya ini tidak menjadi masalah bagiku selama masih ada rasa cinta.
Beberapa waktu belakangan ini, aku merasa ingin marah ketika mengingat hal ini, meskipun merasa bahwa hal ini adalah hal yang lucu.
Terkadang dia menasihatiku dengan berlebihan.
Aku tahu dia orang yang pintar dan bijaksana, namun terkadang sulit bagi ku untuk mengikuti pola pikirnya terutama prinsip hidupnya.
Karena perbedaan budaya, pasti juga terdapat perbedaan pola pikir.
Berdiskusi tidak mengapa, namun tetap harus mempertimbangkan agama dan budaya orang yang diajak berdiskusi.
Aku sangat marah ketika dia meminta ku memikirkan cara hidup ku selama ini.
Dia mengatakan bahwa generasi muda Jepang saat ini sudah kehilangan jati diri sebagai bagian dari bangsa Asia. Kebanyakan dari mereka mengambil budaya barat, bahkan melebihi sikap orang barat itu sendiri.
Dia juga menuliskan contoh-contoh yang dianggapnya buruk atau jahat bagi orang Indonesia.
Bila aku menilai cara hidup itu dari sudut pandangku, hal tersebut tidaklah buruk atau jahat namun hal yang wajar dan diperbolehkan.
Perbedaan budaya mengakibatkan hal tersebut dianggap berbeda.
Beberapa kali aku menanyakan "coba pikirkan apa yang dimaksud dengan kebenaran universal itu?
Apakah hal itu ada?".
Aku tahu dia tersinggung dengan kata-kata yang dituliskan oleh orang lain itu.
I'm really sorry for hurt you so ".
もしあの男はさおりさんに愛してできるなら、それは十分でしょう?
あの男も後悔したんだ。